Tuesday, January 03, 2006

You Always Walk Alone

Akhirnya aku terperosok ditempat ini. Sebuah lorong gelap yang teramat panjang namun masih dapat kulihat ujung akhirnya. Mungkin Imaji atau bisa juga Setan yang tidak tahu diri yang mengantarkanku dengan paksa ketempat ini. Ku tak mau namun tak mampu kulawan. Pada dinding-dinding lorong itu terlukiskan seluruh gambaran sejarah kehidupanku mulai dari aku pertama kali menghirup nafas pertamaku didunia sampai saat-saat terakhir sebelum aku diantarkan ke tempat ini. Semua Terpampang jelas meski gelap berusaha menutupi perlahan-lahan gambar-gambar itu.

Begitu aneh karena gambar-gambar itu dapat bergerak,menceritakan dengan penuh nafsu setiap hal yang pernah kulakukan. Tapi mengapa dalam gambar-gambar itu hanya terdapat diriku? Tiada siapapun yang muncul dalam gambaran kehidupanku. Hanya ada aku. Sendiri. Ini tidak masuk akal karena sebenarnya banyak orang-orang lain yang muncul dalam hidupku.

Aku takut. Lorong ini begitu menakutkan. Bukan karena gelap atau asing. Tapi gambar-gambar itu yang membuatku takut. Gambar-gambar itu membuatku takut akan kesendirian. Aku ingin berlari keluar menuju ujung lorong yang tadi sempat kuperhatikan sebentar. Aku tidak tahan berada di lorong ini memperhatikan gambar-gambar diriku sendiri. Ku mulai berlari menelusuri lorong ini. Tiba-tiba gambar-gambar itu bersuara. Berteriak. Merintih Pedih. Suram. Membuatku mempercepat lari hingga ujung lorong ini.

Dan disinilah kini aku berada. Sebuah ruang tanpa batas. Mataku tidak sanggup menangkap apa yang berada di depan. Semuanya putih. Kalau kamu pikir tempat ini terang berarti kamu salah. ruang ini tidak terang, ruang ini Putih. Hanya putih. Tidak ada apapun atau siapapun dalam ruangan ini. Hanya aku terselubungi warna putih. Ini lebih menakutkan dari lorong gelap tadi. Dan aku tercekat. Lalu mati.

Saturday, December 10, 2005

Relativity

Sayang, waktu ternyata melambat. Persis seperti apa yang selalu kamu bilang padaku disetiap malam dimana kita menceritakan kembali hampir semua kisah awal pertemuan kita. Awalnya aku tidak percaya apa yang kamu bilang itu sayang. Bagiku waktu berjalan cepat. Tidakkah kamu perhatian langit mengganti warnanya dengan cepat saat kita sedang bersama, padahal saat itu kita hanya saling bertatapan mata dan tersenyum? bukankah waktu yang ada saat kita bersama selalu tidak pernah cukup untuk mengusir rasa rindu itu jauh-jauh? Tapi semua Kisah yang kamu ceritakan itu terasa telah terjadi begitu lama, toh aku masih ingat dengan detail tiap-tiap peristiwa yang telah terjadi diantara aku dan kamu.
Mungkin aku dan kamu salah sayang. Mungkin kita berdua sanggup untuk mengontrol waktu. Mungkin kita bisa mempersempit atau memperlebar celah kecil diantara dua bagian jam pasir sehingga butiran-butiran pasir yang terjepit didalam tabung itu mampu bergerak dengan sangat cepat ataupun lambat. Mungkin juga waktu dengan segala satuan ukurnya tidak mampu untuk menjadi satu parameter atas apa yang terjadi diantara aku dan kamu. Apakah sesuatu yang tercipta di udara ini mampu dihancurkan oleh sang waktu sayang? mengikisnya perlahan kemudian memecahnya menjadi partikel-partikel yang kemudian menguap diudara? Aku tidak ingin itu terjadi sayang. Kamu tahu itu. Aku ingin waktu untuk berhenti atau setidak-setidaknya kita dapat berkompromi dengannya.
Beberapa jam lagi genap 30 hari sejak pertamakalinya aku menggenggam tanganmu. Apakah 30 hari itu terasa lama untukmu dan untukku sayang? aku tidak tahu harus menjawab apa, aku hanya tahu 30 hari ini belum cukup bagiku untuk melakukan setiap hal yang ingin kulakukan, hal-hal yang ingin kurasakan, serta untuk membuktikan dan menunjukkan semuanya kepadamu.
Aku juga tahu dalam 30 hari ini aku tidak selalu ada untuk kamu. Aku pernah membuatmu menunduk dan kecewa atau bahkan membuatmu marah. Maafkan aku. i Love You
*met satu bulanan.

Friday, December 02, 2005

Manusia-manusia tanpa wajah

Aku takut....Aku takut pada manusia-manusia tanpa wajah yang berjalan bergerombol, mengikuti langkahku lalu seperti biasanya, mereka meraba pelan tengkukku. Dingin dan mengejutkan, itu yang kurasakan ketika mereka meletakkan tangannya yang halus tanpa guratan ditengkukku.
Aku yakin manusia-manusia tanpa wajah itu tidak pernah tertidur. Aku tahu itu karena mereka terkadang menyempatkan diri untuk singgah sejenak dalam mimpiku. Tapi di dalam mimpi mereka tidak begitu membuatku takut karena mereka tidak dapat menyentuhku. Aku hanya dapat melihat mereka bergerombol dari jauh, seakan ingin mendekatiku namun seperti ada tembok transparan yang tidak dapat mereka tembus. Hanya saja ketika aku bangun dari tidur seluruh tubuh telah basah oleh keringat yang mengiringi nafasku yang tersengal-sengal. Sesak.
Tuhan, mengapa mereka selalu mengikutiku? bukankah telah kuletakkan sesaji diseluruh penjuru ruangan untuk mereka?bukankah telah kupasang ajimat pengusir dileherku? tapi mengapa mereka tidak kunjung berhenti mengikutiku. Aku takut mereka datang tidak hanya untuk menyentuh tengkukku. Aku takut mereka datang untuk mencekikku hingga mati lemas!
Tuhan siang ini manusia tanpa wajah itu datang lagi. Kali ini tidak bergerombol seperti biasanya, hanya satu manusia tinggi besar tanpa wajah yang berlari menghampiriku. Mungkin mereka akhirnya mengutus salah satu dari mereka yang terkuat untuk mencekikku. Tapi aku salah. Manusia tinggi besar itu hanya menyentuh tengkukku dengan sangat perlahan. Terasa begitu nikmat pada awalnya namun begitu mengerikan ketika manusia tinggi besar itu tertawa. Ya, manusia tinggi besar itu tertawa. Memang tidak dapat kulihat tawa diwajahnya yang kosong, namun bisa kurasakan dengan jelas tawa mengerikan itu.
Tuhan, Malam ini aku baru saja selesai bercermin. Wajahku ternyata hanya tersisa separuh. Sisanya lagi putih kosong seperti kertas yang belum terpakai. Sepertinya manusia tinggi besar yang datang siang tadi telah mencuri sebagian wajahku. Apakah aku akan menjadi salah satu dari manusia-manusia tanpa wajah itu? apakah mereka akan kembali untuk mencuri wajahku? apa yang harus kuperbuat? Tuhan, maaf, seperti biasa aku tidak bisa menunggu jawabanmu. Aku harus pergi dan berlari. Manusia-manusia tanpa wajah itu telah mendekat dari kejauhan. Aku harus berlari saat ini juga. Tapi aku akan kembali padaMu

Monday, November 14, 2005

Kembali menjadi anak SMP part II

Pernahkah anda merasa kembali menjadi seperti anak SMP?Apakah anda merindukan rasa itu kembali?. Rasa dimana anda seperti terbaring dalam taman penuh bunga yang mulai melepaskan diri dari kuncupnya. Kemudian ditengah keharuman bunga-bunga itu anda bermimpi. Begitu suci, sejuk dan damai, seperti dulu ketika anda bermimpi untuk pertamakalinya.

Pernahkah anda merasa kembali menjadi seperti anak SMP? Pernahkah wajah anda tiba-tiba memerah karena tersorot sebuah tatapan mata yang mendalam? Pernahkah anda merasa terdiam lalu keluar sesaat dari realita ketika melihat senyuman yang murni dan tulus?. Semuanya berputar dan terulang diselingi rasa malu namun anda tidak akan pernah merasa bosan. Semuanya akan membuat unsur-unsur dalam tubuh anda saling mengikat. Mempercepat anda untuk menjadi manusia. Manusia sesungguhnya.

Tapi bukankah kita semua akan kembali lagi seperti anak SMP ketika berhadapan dan merasakan paduan 4 huruf simpel dari alphabetical order itu? Huruf L, huruf O, huruf V dan huruf E. Bukankah kita tidak akan kuasa untuk melawan gabungan 4 huruf itu? Bukankah kita akan takluk kemudian mengikuti semua alur yang disediakannya untuk kita? L.O.V.E




I Love You So

Monday, November 07, 2005

Bintang Jatuh

Gadis itu melangkah perlahan menyusuri tepian pantai. Baju hitam dan rok cokelat panjang membalut tubuhnya. gelombang-gelombang kecil bermanuver menerpa kakinya yang telanjang.. Matanya yang teduh memandang jauh keatas. Melihat bintang-bintang yang bertaburan tepat diatas pantai ini. Ia ingin kembali kesana. Berkumpul kembali dengan teman-temannya. Bermain-main melintasi semesta. Menikmati perubahan tanpa perlu ikut berubah. Menyibak misteri yang terselubung. Misteri-misteri Alam.

Mata teduh itu perlahan mulai berair. Rambut panjangnya yang halus mengalun dihempas angin dingin. Gadis itu menangis. Mungkin Bumi bukan tempat yang tepat untuknya. Bumi terlalu kejam. Bumi tempat yang buruk. Andai saja waktu itu atmosfer membakarnya. Tapi tidak, Atmosfer waktu itu terkejut melihatnya, menunduk serta mendingin, membiarkan gadis itu turun dengan utuh ke Bumi. Gadis itu memberikan nafas untuk Bumi. Bumipun membiru. Indah

Aku berlari dari sudut pantai yang lain. Meluaskan penglihatan, mencari-cari bayangan gadis itu. Mengejar pengalaman estetis. Tapi gadis itu bukan sekedar substansi atau materi. Ada aura divine mengelilingi tubuhnya, tak mampu kulihat namun bisa dirasakan dari jauh. Begitu hangat, dalam dan menenangkan.

Gadis itu masih berdiri sambil menatap ke angkasa ketika aku tiba. Rasa hangat itu semakin menguat. Aku memohon pada sang Waktu untuk berhenti berputar.Diam. Gadis itu menoleh kearahku. Mata nya menatap kearahku. Kini Waktu benar-benar berhenti. Begitu hening, begitu damai, begitu indah namun tidak hampa. Dan aku pun terjatuh diatas hamparan butir-butir pasir ketika gadis itu memberikan senyum pertamanya.

“apakah kamu tuhan?” tanyaku dengan suara bergetar
“bukan, aku hanya seorang teman dari jauh”. Jawabnya pelan.
“untuk apa kamu datang ke bumi?” Tanyaku lagi.
“Aku yang seharusnya menanyakan hal itu padamu”. Jawab gadis itu.
“Maukah kamu ikut denganku”??

Gadis itu terdiam. Tidak menjawab pertanyaan terakhir dariku. Matanya membulat. Aura dahsyat itu semakn terasa kuat menghantam tubuhku. Gadis itu masih terdiam namun ia mengulurkan tangannya kepadaku. Kurasakan Harmoni.

- To be Continued-

* dedicated for LMM

Thursday, October 27, 2005

Saya dan Kamu

Saya

Terhimpit dalam wilayah abu-abu, resah menerjemahkan kebenaran. Tak Sanggup menghitamkan atau memutihkan sesuatu dengan keyakinan. Masa depan dipertanyakan. Hidup dalam zaman batu, berjuang keluar dari kegelapan namun tak mampu. Sepi, sepi dan sepi kecuali ketika makian datang menyapa. Tak terlihat. Sekarat.


Kamu

Berdansa diatas dunia. Melangkah diiringi riuh tepukan tangan. Diabadikan gerakannya. Indah penuh letupan energi. Bersayap. Ramai, ramai dan ramai kecuali ketika tersenyum.semua diam menghayati. Hidup.


Mimpi

Berpegangan tangan di padang rumput yang menguning ketika langit mulai membiru. Terlalu klise namun tetap terasa menyenangkan. Hangat. Berpetualang diatas pelangi,bermain-main dengan warnanya lalu mencari-cari peti-peti penuh emas disudutnya yang paling akhir. Ataukah mungkin cukup Saya dan Kamu duduk berdua dipinggir danau ditemani dua cangkir cokelat panas, saling menatap dan bertukar cerita?. Harmoni.

Nyata

Terasa bergerak begitu cepat. Meneliti unsur-unsur yang bergejolak. Berusaha mendefinisikan setiap reaksi yang ada. Membuka misteri. Intai. Sihir. Elektrik. Implisit. Eksplisit. Mencari keseimbangan. Melancarkan suara yang terbata. Gugup.

Mungkin

Mungkin Saya dan Kamu satu jiwa yang sengaja dipecah oleh Tuhan, Saya terpuruk dan Kamu menanjak, menanti untuk disatukan kembali. Mungkin Saya dan Kamu dua jiwa yang berbeda yang mencoba untuk melebur. Mungkin Saya dan Kamu dua musuh besar dimasa lalu yang bereinkarnasi, dipertemukan dimasa kini untuk kemudian bersaing kembali dimasa depan. Mungkin Saya dan Kamu dua jiwa yang kebetulan berpapasan, menatap sebentar lalu masing-masing kembali berpetualang. Mungkin Saya dan Kamu dua mahkluk tanpa jiwa, berjanji membuat satu melalui cinta. Mungkin Jiwa Saya ada untuk mengabdi Jiwa Kamu. Mungkin,mungkin dan mungkin.


Untouchable, if I'm not fit to even crawl if I'm too sick,
I'll soak my skin in alcohol until I feel untouchable.
-Rialto-

* Saya dan Kamu..dua karakter yang saya ciptakan tanpa jenis kelamin. Mungkin untuk menutupi identitas atau mempermudah anda semua untuk memilih untuk menjadi Saya ataukah menjadi Kamu?. Mungkin terinspirasi dari sebuah kisah Nyata dan Mungkin juga Terinspirasi lewat Mimpi. Hanya saya dan kamu yang mengerti bukan?.

Saturday, October 22, 2005

Wajah-wajah Jomblo


Malam minggu. Hujan rintik turun perlahan seperti hari-hari kemarin. Lagu-lagu pop negeri Jiran dari radio tukang es bersaing dengan gemuruh permainan sepakbola dari rental playstation diseberangnya. Beberapa pasangan terlihat bergandengan tangan erat, berlindung dibawah payung, mereka tersenyum, begitu mistis, mungkin karena tersihir oleh cinta.

Aku berjalan sendiri, menembus gelap dan gerimis tanpa perlindungan, hanya dibalut sebuah jaket tipis namun cukup hangat. Tiada tangan seorangpun untuk digenggam, hanya sebatang rokok ditangan kanan yang tak henti-henti memberikan kenikmatan semu. Sedangkan ditangan kiri kugenggam tulisan Peter F Drucker yang perlahan-lahan mengurangi keyakinanku akan kejahatan kapitalisme. Toh aku tetap mengaguminya. Kulindungi tulisan itu dari air hujan dibalik jaket.

Beberapa orang kulihat berjalan sendiri. Ekspresi mereka begitu mirip denganku. Ekspresi galau itu. EKspresi resah itu. Ekspresi seorang jomblo dimalam minggu.
Dari jauh kulihat wajah yang familiar. Ah itu teman saya. Akhirnya saya ada teman untuk malam ini. Kuajukan sebuah pertanyaan untuknya,
"lho koq malam minggu ga pacaran"?.

"ah untuk apa pacar-pacaran. Bikin dosa aja". Jawabnya singkat. Ya, lagi-lagi pembelaan standar ini lagi yang kudengar. Entah pembelaan macam apalagi yang akan keluar dari mulutnya jika ku tanyakan lebih lanjut tentang kesendiriannya malam ini.

Kami adalah wajah-wajah jomblo dimalam minggu
kami resah namun bukan berarti kami tidak dapat tersenyum
Kami galau tapi bukan berarti kami mengalah
Mungkin kami hanya tidak beruntung

  Free Counter
Web Counter Join the Greenpeace cyberactivist community and start making waves. Yahoo Online Status Indicator